<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942</id><updated>2011-04-21T15:31:47.080-07:00</updated><title type='text'>punya esther</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-115165206756127236</id><published>2006-06-30T00:18:00.000-07:00</published><updated>2006-06-30T00:21:08.476-07:00</updated><title type='text'>Rasisme di tengah Spakbola</title><content type='html'>Hari gini masih ngomongin soal &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;rasis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;?&lt;br /&gt;mau nggak mau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw calon &lt;span style="color:#009900;"&gt;jurnalis&lt;/span&gt; (berhasil tidaknya, tergantung Tuhan).&lt;br /&gt;Dan gw, &lt;strong&gt;suka olahraga&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Jadi, kalo gw disuruh nulis, maka tulisan gw pasti ada unsur olahraganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan salah bunda mengandung,&lt;br /&gt;hanya salah ayahanda membesarkan (hehehe).&lt;br /&gt;Tapi, dibilang salah juga nggak, karena nggak rugi cinta sama olahraga.&lt;br /&gt;Yang ada, tubuh jadi sehat.&lt;br /&gt;Pokoknya, gw berterimakasih kepada Tuhan karena punya ayah yang maniak olahraga (meski ia sendiri jarang melakukannya).&lt;br /&gt;Itulah sebabnya gw jadi anak penggila olahraga semua cabang olahraga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula alasan mengapa blog gw banyakan isinya tentang olahraga melulu.&lt;br /&gt;peace...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, gw mo nyentil tentang isu rasisme.&lt;br /&gt;berawal dari kakak laki-laki gw yang kemarin menonton pertandingan Persib di TV (Live) karena dia lagi nggak ada kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian ngirim SMS ke gw,&lt;br /&gt;isinya:&lt;br /&gt;"Kamu masih sering ketemu ama kiper Persib itu?"&lt;br /&gt;Kiper yang dimaksud adalah &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Kosin Hathairattanakool&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw balas:&lt;br /&gt;"Kalo ada waktu, main ke sana,. Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia balas,&lt;br /&gt;"Tadi mainnya jelek.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw: "lho, kok ngomong ke aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak gw: "Nggak apa-apa. Jangan terlalu sering ketemuan, nggak bagus. Pemain bola di Indonesia masa depannya nggak menjanjikan. Apalgi dia bukan orang Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw ngakak abis.&lt;br /&gt;Mulai lagi deh, sindrom kak laki-laki tertua nya keluar alias kambuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw emang anak bungsu, tapi, gw buka anak kecil lagi.&lt;br /&gt;Selera gw dalam milih cowok juga bagus...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lhooo...&lt;br /&gt;kok gw ngomomgin itu sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya ini semua berawal karena Kosin.&lt;br /&gt;gw emang kenal dengan dia, sama seperti gw kenal anak2 Persib lainnya.&lt;br /&gt;Kebetulan aja gw lebih dekat sama dia, karena Bahas Inggris gw lumayan, dan dia jadi punya teman ngobrol.&lt;br /&gt;Asal tahu aja, bahasa Inggrisnya nggak bagus-bagus amat.&lt;br /&gt;Apalagi bahasa Indonesianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak gw yang pernah nonton pertandingan Persib bareng gw,&lt;br /&gt;heran ngeliat dia yang lagi jaga gawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak gw nyeletuk:&lt;br /&gt;"Lho, sejak kapan orang Cina main sepakbola Indonesia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw jawab, dia bukan keturunan.&lt;br /&gt;dia orang Thailand yang dikontrak ama Persib."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo.." Kata kakak gw.&lt;br /&gt;Tadinya ia menyangka, sepakbola di Indonesia sudah mulai menjadi olahraga elit.&lt;br /&gt;entah kenapa, di indonesia, tidak ada warga keturunan yang menjadi pemaion bola profesional.&lt;br /&gt;Mungkin bagi sebagian orang, rasanya lebih elit kalo menjadi atlet Bulutangkis, basket, tenis, golf, bilyard, dll.&lt;br /&gt;Mungkin karena itu pula, sepakbola Indonesia hanya bergerak di tempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-115165206756127236?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/115165206756127236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=115165206756127236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/115165206756127236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/115165206756127236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/06/rasisme-di-tengah-spakbola.html' title='Rasisme di tengah Spakbola'/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-114951625755432092</id><published>2006-06-05T07:02:00.000-07:00</published><updated>2006-06-05T07:04:17.703-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Persib VS Zona Degradasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa jadinya kalo Persib turun dari Divisi Utama ke Divisi Satu Liga Indonesia? Ini baru namanya berita. Ada ungkapan begini: “Bad news is a good news in Journalism, but good news is only a good one in Public Relations”. Entah dari mana kutipan tersebut berasal, tapi ada benarnya juga. Jika dilihat di media, berita yang memperoleh perhatian lebih besar adalah bencana yang menelan korban yang jumlahnya tak terhitung, tindakan kriminal yang memakan korban, kasus korupsi yang merugikan banyak orang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya di bidang olahraga, hal-hal yang menjadi perhatian publik adalah hal-hal yang sensasional, misalnya tumbangnya unggulan pertama di babak awal suatu turnamen, atau merosotnya peringkat seorang atlet yang secara drastis dari posisi puncak. Hal yang sama terjadi pula terhadap klub sepakbola kebanggaan Bandung, Persib. Klub ini semakin rajin menghiasi halaman sepak bola di media massa cetak. Bukan karena prestasinya yang membanggakan, melainkan karena terancam terkena degradasi dari Divisi Utama Liga Indonesia ke Divisi Satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hal ini sampai terjadi, maka ini adalah yang kedua kalinya sejak tahun 1977. Sama seperti keinginan menaklukkan puncak gunung, sangat susah untuk sampai ke puncak. Risiko untuk gagal selalu ada di depan mata, sedangkan untuk turun ke kaki gunung? Kata anak muda zaman sekarang, tinggal ngesot wae. Target awal Persib adalah masuk delapan besar, namun sejak kekalahan berturut-turut yang ironisnya terjadi di kandang sendiri, klub asuhan Arcan Iurii ini seakan kehilangan semangat untuk menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemerintah Kotamadya Bandung, keadaan ini menyempurnakan pepatah “sudah jatuh ditimpa tangga”. Bandung yang saat ini memiliki segudang masalah dengan tata kota, pedagang kaki lima, terutama masalah sampah, semakin icon Jawa Barat. Pertanyaannya adalah, ada apa dengan Persib? Sah-sah saja masyarakat mempertanyakan hal ini, karena salah satu sumber keuangan Persib berasal dari kantong APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persib memiliki manajerial yang layak, ditangani oleh pelatih yang memiliki reputasi baik, dilengkapi dengan pemain-pemain bintang, dan memiliki fasilitas yang cukup, serta bobotoh yang fanatik. Namun, ternyata semua yang melekat pada diri Persib masih belum cukup untuk menunjukkan kemampuan sebenarnya yang selama ini tersembunyi. Atau apakah potensi yang dimiliki Persib hanya sampai di situ saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Biru maupun Maung Bandung hanya tinggal julukan saja. Terutama jika harus merasakan sakitnya terjun bebas dari Divisi Utama sampai ke Divisi Satu, entah julukan apa yang menanti mereka. Maung Ompong atau Pangeran Turun Tahta?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-114951625755432092?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/114951625755432092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=114951625755432092' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114951625755432092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114951625755432092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/06/persib-vs-zona-degradasi-apa-jadinya.html' title=''/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-114951605626958757</id><published>2006-06-05T06:57:00.000-07:00</published><updated>2006-06-05T07:00:57.040-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sutiyoso Ingin Tarik Kembali Tony/Candra ke Pelatnas? Tunggu Dulu!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, harian yang mengaku-aku “Paling Tahu Jawa Barat” menulis bahwa Sutiyoso berencana menarik kembali pasangan gado-gado Tony Gunawan (AS)/ Candra Wijaya (Indonesia) untuk menjadi penghuni Pelatnas Cipayung. Apakah Sutiyoso benar-benar sudah mempertimbangkannya baik-baik? Candra Wijaya baru saja mengundurkan diri dari Pelatnas, sedangkan Tony Gunawan sudah membawa bendera Amerika Serikat, apa yang ada di pikiran Ketua PBSI ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri, penampilan pasangan yang baru rujuk kembali setelah lima tahun bercerai ini memang sungguh luar biasa di Djarum Indonesia Open yang lalu. Di turnamen bintang enam ini pula, Tony/Candra membuktikan bahwa mereka yang sudah lama tidak berlatih bersama, dapat mengalahkan pasangan-pasangan atlet Pelatnas yang frekuensi latihan bersama pasangannya jauh lebih banyak. Katakanlah, perbedaannya bagai langit dan bumi.&lt;br /&gt;Jika Sutiyoso benar-benar mewujudkan niatnya menarik kembali pasangan Tony/Candra, akan mucul kontroversial di dunia bulutangkis Indonesia. Apakah PBSI sudah sedemikian putus asanya karena kegagalan membawa pulang piala Thomas di Jepang yang lalu, ditambah dengan keberhasilan di Djarum Indonesia Open hanya berupa satu gelar, sehingga terburu-buru ingin menarik kembali Tony/Chandra? Apakah PBSI tidak memikirkan regenerasi di Pelatnas Cipayung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pasangan Tony/Candra akan menjadi motivator bagi junior-juniornya di Cipayung. Namun jika mereka kembali terpilih untuk menjadi tumpuan Indonesia di turnamen yang membawa nama bangsa, kapan para juniornya memperoleh kesempatan dan kehormatan itu? Jika diperhatikan, lawan Markis Kido/Hendra Setiawan sebelum dikalahkan oleh Tony/Candra masih merupakan pemain junior di Korea. Saya rasa, Korea tidak kekurangan pemain senior yang masih bagus, namun mereka sudah memikirkan regenerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Korea saja sudah mempersiapkan pemain-pemain muda untuk ajang Internasional, mengapa Indonesia tidak? Jika dilihat ke belakang, pemain muda seharusnya masih berada dalam usia produktif untuk berprestasi. Berapa usia Mia Audina ketika ia mulai membawa Indonesia memenangkan Piala Uber? Memang usia bukan faktor utama. Sebutlah Rudy Hartono yang delapan tahun menjuarai All England. Tapi, regenerasi tetap diperlukan.&lt;br /&gt;Baik Tony maupun Candra memang mengatakan akan mempertimbangkan tawaran tersebut. Namun bukahkah itu sudah menjadi sinyal penolakan kepada PBSI? Jika mereka memang ingin kembali meperkuat pasukan Indonesia, mereka tentu akan berkata, “Merupakan kehormatan sekaligus kebanggan bagi kami untuk kembali membawa nama bangsa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukanlah suatu protes terhadap kemungkinan pasangan Tony/Candra yang akan kembali memperkuat Tim Indonesia. Keberadaan mereka di Pelatnas tentu mampu memperbaiki prestasi Pelatnas. Namun, sampai kapan Indonesia akan terus bertumpu pada mereka? Jika Pelatnas terus mengandalkan pasangan ini, suatu saat pasangan tersebut sudah mencapai titik puncak penampilannya, apa yang akan dilakukan Pelatnas? Pada saat itu, pasangan muda hanya akan memperoleh tekanan karena tidak memperoleh kesempatan untuk unjuk gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memiliki pertimbangan sendiri ketika menyatakan mundur dari pelatnas. Tapi mereka tentu tidak akan melupakan masa-masa dan perjuangan mereka demi Indonesia. Saya rasa, mereka tidak akan menolak jika dijadikan sparring partner bagi pemain-pemain muda Indonesia, mungkin hanya terbentur masalah jadwal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan pasangan Tony/Candra di Djarum Indonesia Open seharusnya sudah cukup membuktikan bahwa Pelatnas masih harus bekerja keras. Tak perlu menarik kembali mereka pulang, karena mereka sudah menentukan pilihan mereka. Manusia belajar dari pengalaman. Kekalahan merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Para pemain tentu tidak ada yang suka jika kalah terus-menerus. Mereka mungkin bisa menahan sakitnya dikalahkan, tapi mereka juga tidak akan melupakan kebahagiaan mereguk kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini prestasi Indonesia tidak sebaik China, namun tidak ada jaminan bahwa Indonesia akan selamanya berada di posisi yang sama. Berikan kesempatan kepada pemain muda untuk berusaha demi negara, mereka tidak akan mengecewakan bangsanya. Orang bodoh mana yang akan mengkhianati kepercayaan sebesar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik seperti menarik kembali pemain yang dulunya berprestasi, atau kemungkinan memanggil pelatih asing, sungguh harus dipikirkan kembali. Masalahnya berada pada diri masing-masing pemain, apa motivasi mereka bergabung di Pelatnas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat buat pasangan Tony/Candra untuk come back yang sukses, Taufik Hidayat sebagai pemain yang berhasil menyelamatkan muka Indonesia pada umumnya dan Pelatnas pada khususnya. Bagi pemain-pemain muda, maju terus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-114951605626958757?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/114951605626958757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=114951605626958757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114951605626958757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114951605626958757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/06/sutiyoso-ingin-tarik-kembali.html' title=''/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-114943605360463897</id><published>2006-06-04T08:42:00.000-07:00</published><updated>2006-06-04T08:47:34.656-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pele dan Maradona Bersaing, Ronaldo Terpuruk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah dua legenda sepakbola itu sedang bersaing? Pertandingan mana yang mempertemukan mereka? Apa pula penyebab keterpurukan Ronaldo? Mengapa tidak ada satu media pun yang memberitakan tentang hal ini? Mengingat nama-nama tersebut sangat komersil, adalah hal yang aneh jika tidak ada satu media pun yang menyiarkannya. Mengapa? Apakah media terlalu sibuk dengan bencana di Yogyakarta dan sekitarnya, ditambah lagi dengan gempa 6,0 skala Richter yang baru mengguncang Wamena? Jika berita mengenai ketiga bintang besar tersebut tidak muncul di media, maka hanya ada satu kesimpulan. Hal tersebut tidak benar-benar terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini mungkin membuat kening berkerut. Pertanyaannya adalah, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis? Jawabannya, penulis ingin memperlihatkan sedikit gambaran tentang Jatinangor, sebuah kawasan yang tak terdefinisikan di Jawa Barat. Dikatakan tak terdefinisikan karena masih menjadi pertanyaan apakah Jatinangor dapat disebut kota, atau masih tergolong desa. Kontroversial lainnya tentang Jatinangor adalah ketidakjelasan fungsi antara kawasan pendidikan dan kawasan komersil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, letak Jatinangor yang jauh dari hingar-bingar perkotaan seharusnya mendukung bagi terciptanya kawasan pendidikan. Namun, berdirinya dua pusat perbelanjaan yang besar, serta cabang-cabang perusahaan waralaba yang menjamur, secara tidak langsung membawa Jatinangor menuju pembentukan kawasan komersil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa hubungannya dengan Pele, Maradona, dan Ronaldo? Ketiga nama besar tersebut mengarah pada tiga rumah makan. Ketiga rumah makan tersebut bukanlah icon Jatinangor, namun bisa menggambarkan wajah Jatinangor saat ini. Salah satu rumah makan tersebut, sebut saja Pele, karena ciri khasnya adalah masakan pecal lele (disingkat menjadi Pele) kedatangan pesaing baru tepat di sebelahnya. Pesaing baru ini di kalangan tertentu dikenal dengan nama Maradona, karena nama asli rumah makan tersebut merupakan plesetan dari nama si “Tangan Tuhan” tersebut. Berbeda dengan Pele, Maradona menyajikan ayam bakar sebagai menu andalannya. Meskipun Pele masih ramai dengan pengunjung, namun bukan rahasia jika Maradona sedikit demi sedikit berhasil menarik pelanggan Pele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut riset, penyebab utama kepopuleran Maradona adalah sistem semi-swalayan yang diterapkannya. Pembeli boleh mengambil sendiri nasi dan lalapan termasuk sambalnya, Maradona yang membakar ayamnya. Strategi ini cukup berhasil karena pembeli yang datang pada umumnya adalah mahasiswa yang menjadikan kuantitas makanan sebagai pertimbangan pertama. Kualitas berada di urutan kedua karena sangat sulit memperoleh makanan yang terjamin kualitasnya di wilayah ini. Pertimbangan ketiga adalah harga, yang juga menjadi salah satu daya tarik Maradona. Lebih murah Rp500,00 dari harga rata-rata ayam bakar di Jatinangor, ditambah dengan pelayanan yang memadai, Maradona menjadi semakin populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pele sendiri menyadari hal tersebut, namun belum ada tindakan yang diambil untuk mempertahankan pelanggannya. Menu yang disajikan masih sama, harganya pun tidak berubah. Dengan kuantitas nasi yang ditawarkan sekarang, para mahasiswa yang sedang kelaparan harus membayar lebih mahal untuk memperoleh nasi yang lebih banyak. Belum lagi es teh manis yang disajikan kalah menarik dibandingakan yang ditawarkan Maradona. Warnanya pucat dan rasanya pun tidak semanis es teh manis Maradona. Wajar saja hanya pelanggan yang benar-benar setia yang masih bertahan menjadi konsumen Pele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti Maradona tidak memiliki kekurangan. Pelayanan terhadap pemesanan yang akan dibawa pulang sering kali dijadikan sebagai prioritas terakhir. Bukan satu dua kali pemesanan yang dilakukan lebih awal harus menunggu, sementara pengunjung yang baru datang namun makan di tempat menerima pesanannya lebih cepat. Dalam hal pelayanan, Pele masih jauh lebih baik dari Maradona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari lokasi Pele dan Maradona, baru saja berdiri rumah makan ketiga adalah warung bakso. Bentuk baksonya yang bundar mengingatkan kita pada bintang lapangan hijau berkepala plontos yang baru meluncurkan situs resmi pribadinya, Ronaldo. Warung bakso tersebut jg memilih nama J*do sebagai merek dagangnya, semakin mempercocok pemilihan nama Ronaldo sebagai sebutannya. Berbeda dengan Pele dan Maradona yang selalu ramai dengan pengunjung, Ronaldo malah sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Maradona yang baru berdiri dalam dua bulan terakhir pada minggu pertamanya berhasil menarik banyak pengunjung, Ronaldo yang baru berdiri dua minggu belakangan ini tidak berada dalam daftar tempat makan populer di Jatinangor. Hal ini sangat disayangkan karena posisinya yang strategis tepat di seberang Pangkalan Damri, yang lebih dikenal dengan sebutan Pangdam. Bagi pengguna jasa Damri, menunggu bus sambil menikmati bakso seharusnya bisa menjadi alternatif. Hasil riset menunjukkan alasan utama Ronaldo tidak memiliki pelanggan tetap, bakso yang disajikan Ronaldo masih mengeluarkan aroma kambing yang mencolok. Padahal, Ronaldo menawarkan fasilitas makan yang luas dan nyaman, terutama untuk menghindari asap kendaraan dan hiruk-pikuk di Pangdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ketiga rumah makan tersebut sama seperti nama bintang yang disandangnya. Dulu, Pele selalu disanjung-sanjung karena prestasinya. Sama halnya dengan rumah makan pecal lele yang sebelumnya menjadi primadona di lingkungan sekitar Pangdam. Saat ini, rumah makan ayam bakar sedang dalam masa-masa kejayaannya, mengingatkan kita pada Piala Dunia 1986 saat Maradona secara kontroversial memasukkan bola ke gawang lawannya. Warung bakso yang baru berdiri di seberang Pangdam juga mirip dengan Ronaldo yang baru meluncurkan situs pribadinya. Bedanya, situs tersebut selalu ramai dengan pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Pele, Maradona, dan Ronaldo pada tulisan tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Penulis juga tidak bermaksud memanfaatkan keadaan di mana hampir setiap orang terkena demam bola, untuk memperoleh perhatian. Anggap saja, tulisan ini hanya selingan sebelum menikmati tayangan Piala Dunia di televisi, sama halnya dengan iklan-iklan yang mengatasnamakan Piala Dunia sebagai daya tariknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-114943605360463897?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/114943605360463897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=114943605360463897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114943605360463897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114943605360463897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/06/pele-dan-maradona-bersaing-ronaldo_04.html' title=''/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-114925225165520610</id><published>2006-06-02T05:43:00.000-07:00</published><updated>2006-06-02T05:44:11.676-07:00</updated><title type='text'>Pele dan Maradona Bersaing, Ronaldo terpuruk</title><content type='html'>&lt;p lang="id-ID" style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Pele dan Maradona Bersaing, Ronaldo Terpuruk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;Benarkah dua legenda sepakbola itu sedang bersaing? Pertandingan mana yang mempertemukan mereka? Apa pula penyebab keterpurukan Ronaldo? Mengapa tidak ada satu media pun yang memberitakan tentang hal ini? Mengingat nama-nama tersebut sangat komersil, adalah hal yang aneh jika tidak ada satu media pun yang menyiarkannya. Mengapa? Apakah media terlalu sibuk dengan bencana di Yogyakarta dan sekitarnya, ditambah lagi dengan gempa 6,0 skala Richter yang baru mengguncang Wamena? Jika berita mengenai ketiga bintang besar tersebut tidak muncul di media, maka hanya ada satu kesimpulan. Hal tersebut tidak benar-benar terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;Tulisan ini mungkin membuat kening berkerut. Pertanyaannya adalah, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis? Jawabannya, penulis ingin memperlihatkan sedikit gambaran tentang Jatinangor, sebuah kawasan yang tak terdefinisikan di Jawa Barat. Dikatakan tak terdefinisikan karena masih menjadi pertanyaan apakah Jatinangor dapat disebut kota, atau masih tergolong desa. Kontroversial lainnya tentang Jatinangor adalah ketidakjelasan fungsi antara kawasan pendidikan dan kawasan komersil.&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;Di satu sisi, letak Jatinangor yang jauh dari hingar-bingar perkotaan seharusnya mendukung bagi terciptanya kawasan pendidikan. Namun, berdirinya dua pusat perbelanjaan yang besar, serta cabang-cabang perusahaan waralaba yang menjamur, secara tidak langsung membawa Jatinangor menuju pembentukan kawasan komersil.&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lalu, apa hubungannya dengan Pele, Maradona, dan Ronaldo? Ketiga nama besar tersebut mengarah pada tiga rumah makan. Ketiga rumah makan tersebut bukanlah &lt;i&gt;icon&lt;/i&gt; Jatinangor, namun bisa menggambarkan wajah Jatinangor saat ini. Salah satu rumah makan tersebut, sebut saja Pele, karena ciri khasnya adalah masakan pecal lele (disingkat menjadi Pele) kedatangan pesaing baru tepat di sebelahnya. Pesaing baru ini di kalangan tertentu dikenal dengan nama Maradona, karena nama asli rumah makan tersebut merupakan plesetan dari nama si “Tangan Tuhan” tersebut. Berbeda dengan Pele, Maradona menyajikan ayam bakar sebagai menu andalannya. Meskipun Pele masih ramai dengan pengunjung, namun bukan rahasia jika Maradona sedikit demi sedikit berhasil menarik pelanggan Pele.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Menurut riset, penyebab utama kepopuleran Maradona adalah sistem semi-swalayan yang diterapkannya. Pembeli boleh mengambil sendiri nasi dan lalapan termasuk sambalnya, Maradona yang membakar ayamnya. Strategi ini cukup berhasil karena pembeli yang datang pada umumnya adalah mahasiswa yang menjadikan kuantitas makanan sebagai pertimbangan pertama. Kualitas berada di urutan kedua karena sangat sulit memperoleh makanan yang terjamin kualitasnya di wilayah ini. Pertimbangan ketiga adalah harga, yang juga menjadi salah satu daya tarik Maradona. Lebih murah Rp500,00 dari harga rata-rata ayam bakar di Jatinangor, ditambah dengan pelayanan yang memadai, Maradona menjadi semakin populer.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pele sendiri menyadari hal tersebut, namun belum ada tindakan yang diambil untuk mempertahankan pelanggannya. Menu yang disajikan masih sama, harganya pun tidak berubah. Dengan kuantitas nasi yang ditawarkan sekarang, para mahasiswa yang sedang kelaparan harus membayar lebih mahal untuk memperoleh nasi yang lebih banyak. Belum lagi es teh manis yang disajikan kalah menarik dibandingakan yang ditawarkan Maradona. Warnanya pucat dan rasanya pun tidak semanis es teh manis Maradona. Wajar saja hanya pelanggan yang benar-benar setia yang masih bertahan menjadi konsumen Pele.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;Bukan berarti Maradona tidak memiliki kekurangan. Pelayanan terhadap pemesanan yang akan dibawa pulang sering kali dijadikan sebagai prioritas terakhir. Bukan satu dua kali pemesanan yang dilakukan lebih awal harus menunggu, sementara pengunjung yang baru datang namun makan di tempat menerima pesanannya lebih cepat. Dalam hal pelayanan, Pele masih jauh lebih baik dari Maradona.&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tidak jauh dari lokasi Pele dan Maradona, baru saja berdiri rumah makan ketiga adalah warung bakso. Bentuk baksonya yang bundar mengingatkan kita pada bintang lapangan hijau berkepala plontos yang baru meluncurkan situs resmi pribadinya, Ronaldo. Berbeda dengan Pele dan Maradona yang selalu ramai dengan pengunjung, Ronaldo malah sepi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jika Maradona yang baru berdiri dalam dua bulan terakhir pada minggu pertamanya berhasil menarik banyak pengunjung, Ronaldo yang baru berdiri dua minggu belakangan ini tidak berada dalam daftar tempat makan populer di Jatinangor. Hal ini sangat disayangkan karena posisinya yang strategis tepat di seberang Pangkalan Damri, yang lebih dikenal dengan sebutan Pangdam. Bagi pengguna jasa Damri, menunggu bus sambil menikmati bakso seharusnya bisa menjadi alternatif. Hasil riset menunjukkan alasan utama Ronaldo tidak memiliki pelanggan tetap, bakso yang disajikan Ronaldo masih mengeluarkan aroma kambing yang mencolok. Padahal, Ronaldo menawarkan fasilitas makan yang luas dan nyaman, terutama untuk menghindari asap kendaraan dan hiruk-pikuk di Pangdam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Demikianlah ketiga rumah makan tersebut sama seperti nama bintang yang disandangnya. Dulu, Pele selalu disanjung-sanjung karena prestasinya. Sama halnya dengan rumah makan pecal lele yang sebelumnya menjadi primadona di lingkungan sekitar Pangdam. Saat ini, rumah makan ayam bakar sedang dalam masa-masa kejayaannya, mengingatkan kita pada Piala Dunia 1986 saat Maradona secara kontroversial memasukkan bola ke gawang lawannya. Warung bakso yang baru berdiri di seberang Pangdam juga mirip dengan Ronaldo yang baru meluncurkan situs pribadinya. Bedanya, situs tersebut selalu ramai dengan pengunjung. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Nama Pele, Maradona, dan Ronaldo pada tulisan tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Penulis juga tidak bermaksud memanfaatkan keadaan di mana hampir setiap orang terkena demam bola, untuk memperoleh perhatian. Anggap saja, tulisan ini hanya selingan sebelum menikmati tayangan Piala Dunia di televisi, sama halnya dengan iklan-iklan yang mengatasnamakan Piala Dunia sebagai daya tariknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-114925225165520610?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/114925225165520610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=114925225165520610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114925225165520610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114925225165520610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/06/pele-dan-maradona-bersaing-ronaldo.html' title='Pele dan Maradona Bersaing, Ronaldo terpuruk'/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-114925136024107113</id><published>2006-06-02T05:25:00.000-07:00</published><updated>2006-06-02T05:29:20.253-07:00</updated><title type='text'>Da Vinci Code: Memukau Nalar, Mengguncang Iman</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Da Vinci Code:&lt;br /&gt;Memukau Nalar, Mengguncang Iman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian? Apakah semua orang yang membaca buku Dan Brown benar-benar terpukau? Apakah Tom Hanks yang berperan sebagai Robert Langdon benar-benar mampu mengguncang iman penonton? Saya sebagai orang yang telah membaca dan kemudian menonton Da Vinci Code, sama sekali tidak terpengaruh oleh kontroversial yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;Kemudian saya mulai berpikir, mengapa nalar saya tidak terpukau? Mengapa iman saya tidak terguncang? Saya teringat sebuah iklan jamu yang berkata, “Orang pintar minum T***k A***n”. Benarkah semua orang pintar meminumnya? Saya mengenal seseorang yang sangat pintar. Ia menyandang dua gelar kesarjanaan, bekerja di salah satu media paling terkemuka di Indonesia, menguasai enam bahasa asing, dan menjadi panelis wajib dalam diskusi mengenai lingkungan di kota ini. Terakhir kali saya ke rumahnya, ia sedang masuk angin. Namun, ia lebih memilih menggunakan air rebusan jahe untuk menghangatkan tubuhnya. Meski ia pintar, ia bukan pengguna jamu tersebut.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Da Vinci Code ini. Tidak semua orang yang membaca bukunya kemudian terbangun dari tidur dan mendapati dirinya pada area abu-abu. Tidak semua orang yang menonton film-nya kemudian meragukan imannya. Pertanyaannya adalah, mengapa? Saya pribadi sampai saat ini tidak mengetahui jawabannya. Saya tidak memahami simbologi, dan saya juga bukan orang yang seratus persen mengerti setiap kalimat yang tercantum dalam Alkitab. Apakah buku dan film ini hanya ditujukan pada kalangan yang memiliki pengetahuan akan simbologi? Atau kepada mereka yang tertarik dengan sejarah? Jika demikian, saya tidak heran mengapa Da Vinci Code tidak berpengaruh apa-apa pada saya.&lt;br /&gt;Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya memiliki iman yang sangat besar. Yang saya katakan, Da Vinci Code masih terlalu dini jika ingin menghancurkan sebuah iman dan keyakinan. Apa yang membuat saya berkata demikian? Fakta menunjukkan, buku ini memang terjual sangat laris, namun masih belum mampu memecahkan rekor penjualan satu edisi Harry Potter. Tebak buku apa yang penjualannya ratusan kali lipat di atas angka penjualan buku fiksi karangan J.K. Rowling tersebut? Alkitab. Baik Harry Potter maupun Da Vinci Code membutuhkan press release untuk mempromosikan diri. Pernahkah Alkitab melakukan press release? Tidak. Da Vinci Code semakin popular karena banyak forum yang mendiskusikannya. Pernahkah ada diskusi mengenai kontroversial Alkitab? Tidak.&lt;br /&gt;Harry Potter dan Da Vinci Code yang terkenal ini memang berhasil menembus box office dunia. Adakah perubahan kontroversial yang terjadi setelahnya? Tidak. Film apa yang membawa dampak positif bagi banyak orang? Sudah tentu Passion of The Christ berada pada urutan paling atas. Masih ada lagi, The Chronicles of Narnia yang disebut-sebut sebagai film fiksi terbaik. Apa yang menjadi landasan kedua film tersebut? Alkitab.&lt;br /&gt;Jika itu masih belum cukup meyakinkan Anda bahwa DaVinci Code sepenuhnya adalah fiksi dan lelucon terhadap iman Anda, saya sangat menyarankan Anda sebelum menonton film-nya sebaiknya membaca bukunya terlebih dahulu. Selain di toko-toko buku, Anda dapat menemukan bukunya di perpustakaan-perpustakaan, taman bacaan, dan rental-rental buku. Anda akan mengerti apa yang saya maksudkan.&lt;br /&gt;Antara buku dan film, Anda akan menemui banyak perbedaan. Jika setelah membaca bukunya, Anda berharap menemukan sesuatu yang hebat di film-nya, Anda akan merasa sangat kecewa. Sejak awal, adegan demi adegan yang disuguhkan sungguh berbeda dari yang disajikan di bukunya. Bahkan ada adegan perselisihan pendapat antara Langdon dan Teabing saat menjelaskan Holy Grail kepada Neveau. Seingat saya, tidak ada yang seperti itu di bukunya. Jadi, saya menyarankan agar sebelum menelan mentah-mentah apa yang Anda lihat di film, membaca bukunya adalah langkah awal yang tepat.&lt;br /&gt;Mengenai perbedaan-perbedaan itu, ada banyak kemungkinan yang menari-nari di kepala saya. Seperti halnya semua buku yang di-film-kan, penulisnya harus menyatakan persetujuannya, karena pembuatan film tersebut akan mengalami berbagai macam penyuntingan. Jika Brown mengizinkan adanya perubahan-perubahan alur cerita, apa alasannya bahwa Da Vinci Code itu memang benar? Jika fakta dapat diganti dengan begitu mudahnya hanya demi kepentingan komersil, masihkah fakta itu dapat dipercaya?&lt;br /&gt;Yang saya tahu, semua film yang based on true story yang diangkat dari buku, tidak mengalami perubahan yang signifikan. Yang ada hanya sebatas pemotongan adegan yang dianggap tidak penting susah untuk divisualisasikan. Jika adegan di film ini (Da Vinci Code) di potong-potong, bukankah itu akan mengurangi esensi dari film ini sendiri? Bukankah film ini menonjolkan sisi ilmiahnya? Apa yang terjadi jika salah satu bagian dari pengetahuan itu hilang, masihkah dapat disebut sebagai pengetahuan?&lt;br /&gt;Mari kita sedikit melenceng dari jalur. Ketika bertemu seseorang untuk pertama kalinya, apakah Anda orang yang memercayai kesan pertama? Jika demikian, apakah Anda akan menjadikan kesan pertama tersebut sebagai satu-satunya pegangan? Apakah Anda akan terus mempertahankan kesan pertama tersebut sebagai satu-satunya citra orang tersebut? Sama halnya dengan menonton film. Selain alasan keuangan, tidak ada salahnya lebih dari satu kali menonton satu film. Hal ini berlaku pula pada Da Vinci Code. Menonton untuk pertama kalinya akan memberikan kesan pertama. Menonton untuk kedua kalinya, Anda akan menangkap detail-detail yang kecil yang pada saat pertama kali nonton Anda lewatkan, misalnya gerakan tubuh para aktornya. Menonton ketiga kalinya, Anda akan dapat mendeskripsikan karakter peran dalam film tersebut.&lt;br /&gt;Kesan yang Anda peroleh pada saat menonton film tersebut untuk kedua kalinya akan berbeda dengan apa yang Anda peroleh pertama kali. Begitu Anda menontonnya untuk yang ketiga kali, Anda akan melihat sisi lain dari cerita tersebut. Seperti saat bertemu seseorang, misalnya kesan pertama Anda adalah orang tersebut pintar karena ia berkacamata dan berpenampilan rapi. Pertemuan kedua, Anda melihatnya sedang mengupil. Pertemuan ketiga, Anda akan mengetahui bahwa selera makannya berbeda dengan Anda. Kesan pertama tidak dapat selalu dijadikan patokan, karena hal tersebut hanya merupakan kulit luar saja. Semakin sering kita melihatnya, kita akan semakin memahaminya. (esther hasugian)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-114925136024107113?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/114925136024107113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=114925136024107113' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114925136024107113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114925136024107113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/06/da-vinci-code-memukau-nalar.html' title='Da Vinci Code: Memukau Nalar, Mengguncang Iman'/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28603942.post-114839442531989502</id><published>2006-05-23T07:25:00.000-07:00</published><updated>2006-05-23T07:27:05.326-07:00</updated><title type='text'>my first time</title><content type='html'>hi there!!!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;you can find everything about me in here!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;enjoy!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;-then-&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28603942-114839442531989502?l=ethen-astra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ethen-astra.blogspot.com/feeds/114839442531989502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28603942&amp;postID=114839442531989502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114839442531989502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28603942/posts/default/114839442531989502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ethen-astra.blogspot.com/2006/05/my-first-time.html' title='my first time'/><author><name>ethen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06135188473552541327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
